BIRUL WALIDAIN

Maktabah Ummu Salma al-Atsariyah
Ummu Salma 1 dari 3 23/03/2007
BIRUL WALIDAIN
(Berbakti Kepada Kedua Orang tua)
Allah berfirman:
Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang
ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah
pada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah
kembalimu. (QS. Luqman: 14)
Hadits pertama:
Dari Abu Hurairoh ia berkata: “Rasulullah bersabda: “Seorang anak tidak
dapat membalas ayahnya, kecuali anak tersebut mendapati ayahnya
menjadi budak kemudian ia membelinya dan memerdekakannya”. (HR.
Muslim dan Abu Dawud).
Makna hadits tersebut adalah bahwa seorang anak tidak dapat membalas
jasa ayahnya, kecuali jika anak tersebut mendapati ayahnya sebagai
budak yang dimiliki oleh orang lain kemudian ia memerdekakannya, yakni
membebaskan dari perbudakan dan perhambaan dari orang lain (tuannya)
sehingga ayahnya menjadi orang yang merdeka karena memerdekakan
budak itu adalah pemberian yang paling utama yag diberikan oleh
seseorang kepada yang lain.
Hadits kedua:
Dari Abdullah Bin Mas’ud berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah:
“Amalan apakah yang dicintai oleh Allah” Beliau menjawab: “Sholat pada
waktunya. Aku bertanya lagi: “Kemudian apa” Beliau menjawab: “Berbakti
kepada kedua orang tua”. Aku bertanya lagi: “Kemudian apa” Beliau
menjawab: “Jihad dijalan Allah”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Hadits ketiga:
Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda: “Berbaktilah kepada bapak-
bapak kamu niscaya anak-anak kamu akan berbakti kepada kamu.
Hendaklah kamu menjaga kehormatan niscaya istri-istri kamu akan
menjaga kehomatan”. (HR. Ath-Thabrani dengan sanad hasan).
Hadits keempat:
Dari Asma binti Abu Bakar ia berkata: “Ibuku mendatangiku, sedangkan ia
seorang wanita musyrik di zaman Rasulullah . Maka aku meminta fatwa
kepada Rasulullah dengan mengatakan: “Ibuku mendatangiku dan dia
menginginkan aku (berbuat baik kepadanya), apakah aku (boleh)
menyambung (persaudaraan dengan) ibuku” beliau bersabda: “ya,
sambunglah ibumu”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Imam Syafi’i Rahimahullah berkata: “Menyambung persaudaraan itu bisa
dengan harta, berbakti, berbuat adil, berkata lemah lembut, dan saling
kirim surat berdasarkan hukum Allah. Tetapi tidak boleh dengan
Maktabah Ummu Salma al-Atsariyah
Ummu Salma 2 dari 3 23/03/2007
memberikan walayah (kecintaan dan pembelaan) kepada orang-orang
yang terlarang untuk memberikan walayah kepada mereka (orang-orang
kafir)….”
Ibnu Hajar Rahimahullah bekata: “Kemudian bahwa berbakti,
menyambung persaudaraan dan berbuat baik itu tidak mesti dengan
mencintai dan menyayangi (terhadap orang kafir walaupun orang tuanya)
yang hal itu dilarang di dalam firman Allah : Kamu tidak akan menjumpai
satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih
sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya. (Al-
Mujadilah: 22), karena sesungguhnya ayat ini umum untuk (orang-orang
kafir) yang memerangi ataupun yang tidak memerangi”. (Fathul Bari V/
233).
Dalam kitabul ‘Isyrah, Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang sampai
kepada Sa’ad bin Malik , dia berkata: “Dahulu aku seorang laki-laki yang
berbakti kepada ibuku. Setelah masuk Islam, ibuku berkata: “Hai Sa’ad!
Apa yang kulihat padamu telah mengubahmu, kamu harus meninggalkan
agamamu ini atau aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati, lalu
kamu dipermalukan karenanya dan dikatakan: Hai pembunuh ibu!” Aku
menjawab: “Hai Ibu! Jangan lakukan itu”. Sungguh dia tidak makan,
sehingga dia menjadi letih. Tindakannya berlanjut hingga tiga hari,
sehingga tubuhnya menjadi letih sekali. Setelah aku melihatnya demikian
aku berkata: “Hai Ibuku! Ketahuilah, demi Allah, jika kamu punya seratus
nyawa, lalu kamu menghembuskannya satu demi satu maka aku tidak
akan meninggalkan agamaku ini karena apapun. Engkau dapat makan
maupun tidak sesuai dengan kehendakmu”. (Tafsir Ibnu Katsir III/791).
Hadits kelima:
Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi berkata: “Ketika kami sedang
duduk dekat Rasulullah , tiba-tiba datang seorang laki-laki dari (suku)
Bani Salamah lalu berkata: “Wahai Rasulullah, apakah masih ada sesuatu
yang aku dapat lakukan untuk berbakti kepada kedua orangtuaku setelah
keduanya wafat Beliau bersabda: “Ya, yaitu mendoakan keduanya,
memintakan ampun untuk keduanya, menunaikan janji, menyambung
persaudaraan yang tidak disambung kecuali karena keduanya, dan
memuliakan kawan keduanya”. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu
Hibban di dalam sahihnya)
Hadits keenam:
Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu (dari perbuatan)
durhaka kepada para ibu, mengubur anak perempuan hidup-hidup,
menahan apa yang menjadi kewajibanmu untuk diberikan, dan menuntut
apa yang tidak menjadi hakmu. Allah juga membenci tiga hal bagi kamu
desas-desus, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta. (HR. Al-
Bukhari dan lainnya)
Tentang cara berbakti kepada kedua orangtua yang masih hidup, secara
ringkas adalah sebagai berikut:
Maktabah Ummu Salma al-Atsariyah
Ummu Salma 3 dari 3 23/03/2007
1. Mengajak masuk agama Islam jika belum Islam.
2. Mengajarkannya kepada pemahaman yang benar (Ahlus Sunnah)
3. Mentaati perintah mereka selama itu bukan maksiat.
4. Mendahulukan kepentingan mereka daripada kepentingan sendiri,
bahkan daripada ibadah yang sunnah.
5. Membantu mereka dengan harta, membelikan kebutuhan mereka, dll.
6. Berkata yang baik dan lemah lembut kepada mereka, tidak memanggil
langsung dengan namanya, tidak bersuara tinggi dan ketus, dll.
7. Mendoakan kebaikan untuk mereka, seperti mudah-mudahan mereka
mendapatkan hidayah (Islam / sunnah) dan lainnya.
8. Berbuat baik kepada mereka seperti: melayani kebutuhan mereka,
datang jika mereka memanggil dan lain-lain.
Adapun berbakti kepada orang tua setelah mereka wafat, adalah
sebagaimana yang tersebut pada hadits di atas yaitu:
1. Memohonkan ampun untuk mereka jika semasa hidupnya mereka
sebagai orang Islam.
2. Menunaikan janji mereka.
3. Memuliakan kawan-kawan mereka.
4. Menyambung persaudaraan kepada kerabat mereka.

http://www.ummusalma.wordpress.com
Maraji’: As-Sunnah edisi: 08 / Th. IV / 1421 H – 2000 M dan berbagai sumber. Dikutip dari
salafyoon-online

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: